Pimpinan Pesantren

By Rully Nasrullah 07 Apr 2014, 13:10:57 WIB

         

        DRS. KH. S. Shalahuddin Habsya MA, beliau adalah seorang penggagas, pendiri, penjaga Pondok Pesantren Daarul Mustaqiem. “buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya” itulah pribahasa yang sering  kita dengar, begitupula dengan KH. Shalah ini, beliau tidak mungkin menjadi orang yang besar, orang yang hebat jika tidak mendapatkan pendidikan dari orang hebat.

            Karena zaman dulu tak ada pencatatan atau pengingatan tanggal lahir disebabkan tidak terlalu pentingnya tanggal lahir, maka beliau sendiri menyimpulkan tanggal lahirnya pada tanggal 07 bulan desember tahun 1948. Dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan yang jauh dari tempat menimba ilmu, menjadikan beliau berambisi untuk mencari tempat pembelajaran walau jarak yang ditempuh sangat jauh dan harus dengan berjalan  kaki. Akhirnya beliau memutuskan untuk menimba ilmu alqur’an kepada guru di Daerah gunung dan butuh perjuangan yang melelahkan untuk sampai pada tujuan beliau. Tak cukup hanya dengan belajar alqur’an ke tempat yang harus pulang pergi akhirnya beliau memutuskan untuk belajar di asrama di Daerah Sadeng yang pada saat itu sangat jarang orang untuk mondok dan anak seumuran beliau itu biasanya sudah menikah karena ukuran agar bisa menikah pada waktu itu hanya ditargetkan bisa menanam dan memanen saja. Itulah salah satu kelebihan dari beliau.

            Setelah empat tahun belajar ilmu agama dan umum di Sadeng itu, beliau melanjutkan pendidikannya ke Daerah Bogor yaitu PGAA dengan jurusan menjadi guru, namun setelah SK keluar beliau menolaknya dengan alasan belum siap mengajar namun masih ingin belajar. Akhirnya kepala sekolahpun menyetujuinya dan honor untuk guru dipakai belajar ke perguruan tinggi UIN Syarif Hidayatullah. Setelah lulus dari perguruan tinggi beliau malah diminta untuk menjadi dosen di perguruan tinggi itu yang pada umumnya jarang orang mempunyai nasib seperti beliau.

            Selain menjadi dosen yang hanya mengajar beberapakali saja dalam satu semesternya, beliau juga mengajar di beberapa tempat belajar seperti Madrasah Aliyah dan sekolah lainnya, bahkan bukan sekedar menjadi guru biasa beliau juga dipercaya memegang amanah menjadi kepala sekolah.

            Setelah lama hidup di ibukota itu, beliau akhirnya memutuskan untuk mengembangkan kampung yang dulu telah membesarkannya.

            Dengan dibantu orang-orang dari Jakarta, beliau dan adiknya H. U. Djunaedi Habsya BA, mendirikan sebuah yayasan untuk membantu masyarakat sekitar dalam meningkatkan pendidikan.

            Beliau adalah seorang mukmin yang baik, beliau memperhatikan kehidupan ummat, beliau lebih mementingkan kebutuhan orang lain dari pada kehidupannya.