Mutholaah kitab

By Siti Khaerunnisa 10 Okt 2020, 14:40:27 WIB Daarul Mustaqiem Jaya
Mutholaah kitab

 

Di lingkungan pesantren, istilah muthala’ahmenjadi sebuah ciri khas dalam mengkaji, menelaah dan mengupas isi kitab-kitab berbahasa Arab. Saat momen Ramadlan seperti sekarang ini, pesantren-pesantren marak menyelenggarakan pengajian kitab yang terkenal dengan istilah pasaran. Dalam program pasaran, umumnya berisi tentang kajian kitab, baik dari unsur al-Qur’an, Hadits, Aqidah, Akhlak, Fiqih, Tarikh, dan lainnya. 

Dasar pelaksanaan muthala’ah adalah perintah iqra’ dalam surat al-‘Alaq ayat 1-5. Untuk dapat memahami Al-Qur’an  dan mengamalkannya, penting bagi santri untuk mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya di mana para ulama banyak membahasnya dalam kitab kuning. Dengan cara muthala’ah ini lah santri berusaha untuk menerima semua ilmu yang diwariskan oleh ulama melalui kitab kuning. 

Makna dan Tujuan Muthola’ah

Dalam kamus Al-Munawwir, muthola’ah merupakan mashdar dari kata thaala’a (????) yang artinya membaca, mempelajari, dan menelaah. Istilah muthala’ah lebih dari sekedar qira’ah atau membaca. Qira’ah adalah belajar membaca yang sasarannya agar santri dapat membaca tulisan atau kitab berbahasa Arab dengan benar. Sedangkan muthala’ah merupakan kegiatan menelaah sebuah kitab secara teliti dan mendalam.

Tujuan awal muthalaah adalah agar santri terampil membaca kitab kuning. Tujuan lanjutnya adalah santri dapat melatih diri untuk bisa membaca dan mengerti  atau paham dengan apa yang dibacanya. 

Lebih jauh lagi, tujuan muthala’ah adalah santri bisa membahas dan meneliti buku-buku atau karya-karya ulama besar dan pemikir musliam pada umumnya yang tertulis dalam kitab kuning. 

Muthala’ah menjadi kegiatan bukan hanya santri, tapi juga asatidz (para guru), maupun kyai. Di pesantren, kegiataan muthala’ah ini dijadikan salah satu mata pelajaran karena mengingat pentingnya kegiatan ini. Muthala’ah menjadi bagian dalam kurikulum kepesantrenan. Bagi santri yang sudah menyadari pentingnya muthala’ah, mereka akan mempunyai ruang sendiri untuk ber’uzlah dalam muthala’ah, melalui halaqah-halaqah kajian keilmuan ataupun bentuk lainnya.  

Pembiasaan dalam muthala’ah akan menunjukkan kepiawaiannya dalam membaca dan membahas kitabkuning. 

Semakin sering muthala’ah, santri akan mampu membaca kitab dengan lebih lancar dan bisa menelaah hingga kitab yang mempunyai level kebahasaaraban yang tinggi.

Dan alhamdulillah di pondok kami membiasakan akan hal itu.




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment